~Nge Junk Ria~

Tuesday, April 05, 2005

A Blog Critism Series - Blog, sampah di dunia digital?

Fenomena blog tampaknya seperti menjadi jamur di musim hujan. Anak-anak gadis menggunakan blog untuk pengganti diarinya sekaligus show off kepribadiannya yang sok-imut. Para penggemar fotografi menambah pengeluaran negara (untuk membayar bandwidth) dengan memasang gambar-gambar yang total ukurannya mencapai 99% halaman. Para blogger-wannabe ingin disebut sebagai penulis yang bagus dengan menulis panjang2 di blognya padahal cuma kopi-paste tulisan di milis. Para anak-sok-ikut2an-gaul mendaftar di beberapa situs blog gratisan dan menulis satu kalimat dengan bahasa inggris "thx for visiting my blog" atau semacamnya, dan kemudian jika kita lihat beberapa bulan setelahnya, kita masih mendapatkan isi yang sama.
"Wajibkah memiliki Blog?"
Akhir2 ini fenomena Friendster memang luar biasa. Yang tadinya gapter (gagap komputer) sekarang sudah mulai ga alergi lagi. Dan mulai banyak yang pakai photoshop (katanya buat modif foto di FS). Akankah booming Blog nantinya seperti FS? Prediksi kami, mungkin lebih. Malahan bisa jadi ada jargon bahwa setiap netter harus memiliki blog. Lalu apa keuntungan dan alasan memiliki blog? Nilai positifnya tentu saja mereka yang tadinya alergi komputer dan internet akan menjadi lebih bersahabat dengan dunia maya. Misalnya mereka melihat sebuah blog dan tertarik membuatnya. Tentu mereka akan sedikit banyak berusaha untuk itu. Yang senang menulis diary (khususnya wanita), kehadiran blog akan menjadi sebuah wahana yang sangat diharapkan. Seorang jurnalis, atau programmer sering memajang tulisannya di blog. Bahkan fotografer yg pro dan pemula memajang karya mereka di blog.
Fenomena Blog hanya sekedar trend?
Kita kutip hasil wawancara kami (K) dengan seorang pengguna Blog. Wawancara dengan dia (D) berlangsung tadi malam di sebuah kantin.
K : Anda punya blog?
D : Banyak
K : Ada berapa? Sejak kapan?
D : yang aktif ga semua. Yg udah bikin sih banyak. Blog pribadi ada 2. Sisanya blog rame2 dan bikinin blog buat temen. Blog pertama saya buat udah setahun lebih
K : Anda sendiri yang merancang?
D : Kebanyakan iya
K : Biasa apa yg anda tulis?
D : Macam-macam. Tetapi pada dasarnya saya kurang suka/pandai menulis, jadi lebih banyak sebagai formalitas atau pajang gambar2 kesukaan
K : Alasan anda membuat blog?
D : Ah iseng aja. Blog pertama berisi unek2. Lainnya sih formalitas aja. Daripada nanti-nanti mulai trend seperti FS, mending dari awal aja. Tar dikatain ikut2an arus atau pengen disebut 'anak gaul'
K : Maksudnya?
D : Lha iya. FS mulai rame pertengahan 2004. Saya sendiri bikin akhir 2003. Kemudian ada istilah anak gaul wajib punya FS. Padahal FS sudah ada sejak 2002. Jadi, sebenarnya siapa yg gaul dan siapa yg ga gaul?
K : Tentang blog, akankah seperti FS fenomenanya?
D : Pasti! Tak lama lagi. Apalagi FS skrg menyediakan layanan blog juga.
K : Pesan anda untuk mereka yang hendak memulai sebagai blogger?
D : Isilah blog dgn content yang berguna. Dan jangan lah membuat blog kecuali DALAM KEADAAN TERPAKSA!

Thursday, March 17, 2005

PEMERINTAH vs DPR vs MAHASISWA vs RAKYAT


“wakil rakyat seharusnya merakyat... jangan tidur waktu sidang soal rakyat...”
Yeah... satu bait dari lagu Iwan Fals, Surat buat Wakil Rakyat di tahun 80an. Kalau boleh usul, sebenarnya lagu itu hanya relevan sampai masa kejatuhan orde baru dimana gedung DPR/MPR masih menjadi tempat tidur siang para wakil rakyat, wakil kita. Mestinya bang Iwan bikin lagu baru lagi buat wakil rakyat kita. Judulnya boleh Surat buat Wakil Rayat II. Karena wakil kita sekarang udah jarang tidur siang lagi waktu sidang, tapi punya hobi baru yaitu gontok-gontokkan fisik waktu sidang.

Hmmm... dibanding Taiwan, kericuhan DPR kita belum begitu parah alias masih sebatas adu urat, saling bentak, dorong-dorongan tanpa ada lempar kursi dan tonjok wajah ala Taiwan. Kasus kericuhan pada sidang anggota dan yang puncaknya meletus pada sidang konsultasi hari Rabu 15 Maret ini memang ‘asyik’ dan menghibur untuk disaksikan. Ya... untuk disaksikan memang asyik, tapi kalau direnungkan....

Indonesia katanya negara demokrasi, dimana perbedaan pendapat sangat wajar dan dihargai. Sejak SD saya selalu diajari dan dijejali bahwa negara ini yang khas sebagai perwujudan demokrasi adalah adanya musyawarah mufakat. Segala masalah dapat diselesaikan dengan musyawarah, dan kalau pun masih terdapat perbedaan pendapat, diselesaikan dengan pemungutan suara (voting).

Kita lihat yang terjadi di negara ini. Berita yang belum basi, tentang kenaikan BBM (sejenak melupakan dahulu kasus blok Ambalat). Sejak kenaikan BBM 1 Maret lalu yang mencapai 30% jelas-jelas menyakiti hati rakyat. Di berbagai media, pemerintah baik melalui presiden, wapres sampai tingkat menteri mati-matian memberikan pengertian pada masyarakat tentang alasan naiknya BBM. “Kompensasi dari kenaikan BBM kita tujukan untuk rakyat miskin melalui bantuan sarana kesehatan, pendidikan gratis, bla..bla..bla..”. Ok yang itu pasti semua sudah hafal dan semoga saja benar. Dengan alasan kas negara yang defisit, pemerintah tanpa ba-bi-bu menarik subsidi BBM yang dianggap memberatkan keuangan negara. Walau kebijakan ini sungguh tidak populis dan dipastikan akan memancing protes dimana-mana, toh pemerintah ‘nekad’ juga menaikkan harga BBM.

Kenaikkan BBM di era rezim sebelumnya, memang beberapa kali terjadi. Namun itu pun setelah dirundingkan dengan para dewan yang notabene WAKIL kita (baca: DPR). Setelah DPR menyetujui, barulah harga mulai dinaikkan (walau sebagian besaaaarrr rakyat tidak menginginkannya). Yang terjadi sekarang, pemerintah menaikkan BBM tanpa berunding dengan DPR. Alasan pemerintah seperti diatas tadi, defisit APBN dan mengutamakan kesejahteraan rakyat miskin. Yang terjadi adalah, bukan cuma BBM yang naik. Bahkan sebelum BBM resmi naik, harga sembako sudah mendahuluinya.

Rakyat mengeluh. Tukang ojek menaikkan ongkos, penumpang protes. Sopir angkot minta kenaikkan tarif, penumpang keberatan. Nelayan dengan perahu motor jadi jarang melaut karena sulit dan mahalnya BBM. Minyak tanah untuk rakyat mulai dicuri oleh sektor industri. Nah lho? Katanya kompensasi kenaikkan BBM nantinya akan ditujukan untuk rakyat miskin. Tapi kenyataannya malah akan semakin banyak rakyat yang akan menjadi miskin sedangkan rakyat miskin yang dijanjikan akan dapat pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis hingga saat ini belum mendapatkan haknya. Dimana nyangkutnya? Ooo ternyata sekarang sedang dirundingkan di dewan terhormat sana. Dimana anggota dewan yang mewakili kita sedang ‘ngotot’ mati-matian membela... membela... membela apa? Membela aspirasi kita? Atau membela opini dan gengsi mereka? Hingga harus ricuh teriak-teriak bahkan dorong-dorongan? Hehehe... ya itulah dewan yang telah kita pilih untuk mewakili kita disana.

Lain di DPR, lain di jalanan. Sama-sama ricuh dan teriak-teriak (juga dorong-dorong dan bakar-bakar). Ya itulah teman-teman kita para pelajar mahasiswa yang terus melancarkan protes kenaikkan BBM yang dianggap memberatkan rakyat. Mereka berbicara atas nama rakyat, membela penderitaan rakyat, dan meminta pemerintah memperhatikan rakyat. Lhooo.. rakyat yang dibelanya kemana? Kan yang di DPR itu WAKIL rakyat alias beberapa orang yang dipilih ratusan juta rakyat Indonesia. Nah, kenapa mereka demo kepada DPR atas nama rakyat, sedangkan DPR sesungguhnya adalah rakyat juga? Mestinya fokus ke pemerintah aja. Eh tunggu dulu... demo ke pemerintah? Kan pemerintah itu pelayan rakyat yang bertugas melayani apa-apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan rakyat? Tapi, rakyat ga setuju, kok masih ngotot? DPR yang mewakili rakyat, kok masih plin-plan ambil keputusan hingga memancing kisruh di sidang? Trus mahasiswa yang demo, benar nih menyampaikan aspirasi rakyat? Soalnya... rakyat yang dalam hal ini sebagai korban, kemana??? Ga berbunyi tuh. Paling2 hanya bisa mengeluh, nrimo, dan mengelus dada saja. Eh bentar dulu... rakyat itu sesungguhnya siapa sih? Waaaah akhirnya saya jadi bingung. Kalo terkotak-kotak gini sih...
Pemerintah mestinya menjalankan pemerintahan untuk tujuan semula sejak negara ini berdiri, “menciptakan kehidupan yang adil dan makmur”. Gimana? udah keliatan blum kerjanya? DPR mestinya jadi penyambung lidah atas apa yang menjadi keinginan rakyat. Gimana? Kayanya malah terbalik. Masa rakyat susah karena naiknya BBM, bukannya dibela mati-matian malah ragu-ragu dan yang parah adalah rencana kenaikkan gaji para anggota dewan. Plis donk aaah... hari gini minta naik gaji lagi....

Rakyat akhirnya mesti sabar aja lagi. Harapan yang dulu ada kini mulai pupus lagi. Yaah bersiaplah kecewa tuk kesekian kalinya lagi. Mudah-mudahan esok masih ada nasi terhidang di meja makan yaaa...
Eh tunggu! Ada mahasiswa tuh. Terus memperjuangkan nasib rakyat. Sampai kapan? Hmmm... sampai rakyat bisa menerima apa-apa kebijakan pemerintah yang dianggap memberatkan rakyat dan yang telah disetujui wakil rakyat dan yang dijadikan tema demo mahasiswa. Kapan mereka akan kembali memperjuangkan nasib rakyat? Nanti kalau pemerintah atau DPR bikin kebijakan atau manuver baru lagi yang sekiranya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan rakyat :)
Rakyat lalu ngapain donk?
Nonton tv aja, banyak sinetron, berita, dan gossip disana. Ga usah mikirin yang diatas deh :p
Kalau begitu, kapan beresnya donk suatu masalah? Jika semua ngotot dengan opini sendiri-sendiri dan tidak pernah bersatu? Kemana prinsip musyawarah mufakat yang diajarkan sejak SD? Pendapat siapa yang sebetulnya benar?
Jawabannya adalah kutipan dari sebuah serial terkenal:
THE TRUTH IS OUT THERE !!!

Friday, February 25, 2005

BBM naik tinggi, susu tak terbeli...

Tinggal beberapa waktu lagi harga bensin akan naik. Om SBY bilang kalo kenaikan tersebut hanya akan berpengaruh pada pengeluaran 'orang kaya' saja, mengingat sebagian besar yang menggunakan bensin sebagai bahan bakar untuk kendaraan maupun pabrik biasanya adalah orang kaya.

Perkataan yag naif kan ;)

Siapa pun tahu kalau BBM naik, semua harga kebutuhan sehari-hari juga akan naik. Tidak hanya orang kaya saja yang akan merasakan hal tersebut. Orang miskin juga tetap akan merasakan kenaikan harga tersebut, walaupun tidak secara langsung. Mereka kan beli sabun mandi dari perusahaan besar yang tentu saja akan menaikkan harganya karena ongkos poduksi dan distribusinya naik.

Dari hasil wawancara terhadap seorang tokoh masyarakat, berhasil dicatat suatu hal yang konyol.

xxx: eh
xxx: kenapa premium yg naek yah?
xxx: mending tanggung pertamax sama yg plus aja mahalin
xxx: mahalin abis2an
xxx: toh yg beli yg pake mobil mewah
xxx: ga kerasa berat

Hayo, kenapa coba..

Sesekali muncul sebuah iklan 'layanan masyarakat' di tivi yang tampaknya memutarbalikkan kenyataan ini. Kemana sih lembaga2 pengawas iklan? kok tidak bertindak terhadap iklan pembodohan masyarakat kaya' gini.

Kata babe gue:
"wahai anakku sayang, lihatlah... bertambahnya usiamu... ditandai BBM melambung tinggi.
Maafkan kedua orang tuamu kalau... tak mampu beli... beli....yang pasti ga akan beli susu buatmu !!!"

Walaupun tulisan ini cuma bisa mengkritik, tapi masih lebih baik daripada tidak ada kritik sama sekali. Hehe.

Solusi?
Kalau tujuan pemerintah menaikkan harga BBM adalah untuk mengurangi subsidi, sebenarnya kan bisa ambil jalan lain. Salah satu contoh jalan lain misalnya potong anggaran foya2 pejabat (baju dinas, perjalanan dinas, jamuan dinas, dan apapun yang memakai embel2 "dinas" di belakangnya). Kalo perlu semua perjalanan dinas diganti dengan chat via Y!M (komputer + internet kan jauh lebih murah). Belum cukup? Jual beberapa pulau, daripada nggak keurus. Masih belum cukup? Yah, berarti hasil pemotongan tadi udah dikorupsi lagi. Tidak ada jalan lain, selain generation cut, pecat semua orang di dinas2 pemerintahan (sebagian besar masuk aja dengan KKN, gimana mau nggak KKN lagi seterusnya), ganti dengan yang baru dengan proses rekrutmen yang diawasi ketat.

Begitulah impian konyol kami, harap dimaafkan dan diterima pikiran bodoh ini apa adanya.

Selamat malam.

Merdeka!

test

test...

blom ada ide